NE

News Elementor

NE

News Elementor

What's Hot

Pontianak dalam Peta Kolonial Awal Abad ke-19 hingga Tahun 1895

Table of Content

Foto: Budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman (kanan, berdiri) dan dosen Arsitek Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Emiliya Kalsum (kiri, duduk) di seminar budaya di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, Sabtu, 4 Juli 2026. (Foto: Zulkifli HZ)

NEWSANTARA.CO, Pontianak — Sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip dan naskah kuno namun juga dalam peta. Bagi para sejarawan, peta kolonial merupakan sumber primer yang memperlihatkan bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan berkembang. Demikian pula dengan Pontianak, Budayawan dan sejarawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman mengungkapkan jejak perkembangan kota ini dapat ditelusuri melalui rangkaian peta kolonial sejak awal abad ke-19 hingga penghujung abad ke-19.

“Pada awal abad ke-19, Pontianak mulai dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting di pesisir barat Kalimantan. Meskipun belum ditemukan peta rinci Kota Pontianak yang dibuat tepat pada tahun 1822, atlas dan peta kawasan Borneo pada periode itu, telah menempatkan Pontianak sebagai salah satu bandar utama di muara Sungai Kapuas,” papar H Syafaruddin Daeng Usman S.Pd SH MH di seminar budaya di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, Sabtu, 4 Juli 2026.

Dikatakannya posisi ini menunjukkan kota Pontianak mulai memiliki arti penting dalam jaringan perdagangan dan pelayaran regional. Jika dibandingkan dengan bandaraya kuno yang telah eksis di Kalimantan Barat, seperti Ketapang, Sukadana, Mempawah, Sambas, hingga Sintang.

“Jika dibandingkan dengan kota modern saat ini, wajah Pontianak ketika itu sangat berbeda. Sungai Kapuas dan sungai Landak menjadi urat nadi kehidupan. Jalur air berfungsi sebagai sarana transportasi utama, sementara jalan darat masih terbatas. Permukiman berkembang mengikuti tepian sungai, membentuk pola kota yang memanjang sesuai aliran air,” kata Syafaruddin Daeng Usman.

Menurutnya perubahan Pontianak mulai tampak pada dekade 1880-an ketika Topographisch Bureau di Batavia (Jakarta), melakukan pemetaan yang lebih sistematis terhadap wilayah pemerintahan Hindia Belanda di Kalimantan Barat. Salah satu hasilnya adalah peta berjudul Kaart van den vierkanten paal gouvernements grondgebied te Pontijanak yang diterbitkan pada tahun 1887.

“Peta tersebut merupakan salah satu dokumen kartografi paling penting dalam sejarah Pontianak. Alasannya memperlihatkan secara rinci kawasan pemerintahan kolonial yang dikenal Duizend Vierkante Paal (Tanah Seribu Persegi, Red),” kata Syafaruddin, yang juga Ketua Umum Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Kalimantan Barat periode 2024-2025.

DHD 45 sendiri merupakan organisasi yang melestarikan nilai-nilai sejarah dan semangat juang kemerdekaan Indonesia. Aktif mengadakan seminar sejarah, mendorong pengusulan pahlawan daerah, serta bekerja sama dengan lembaga pemerintah daerah.

Melalui peta tersebut, lanjutnya, terlihat kawasan pemerintahan kolonial telah ditata rapi dan lebih teratur. Jalan-jalan mulai dibangun, batas tanah pemerintahan digambar dengan jelas, sementara tepian sungai Kapuas berfungsi sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan pelabuhan. Bangunan-bangunan penting, seperti rumah pejabat, kantor pemerintahan, gudang, serta dermaga, mulai membentuk inti kota kolonial.

“Tidak jauh dari kawasan pemerintahan Belanda, berdiri Keraton Kesultanan Pontianak yang tetap menjadi pusat kekuasaan lokal. Hubungan antara kawasan kesultanan dan wilayah administrasi colonial, menunjukkan bagaimana dua sistem pemerintahan hidup berdampingan pada akhir abad ke-19. Kawasan utara, pemerintahan Bumi Putera. Kawasan Selatan, pemerintahan Belanda,” tutur Syafaruddin Daeng Usman.

Pada tahun 1889, imbuhnya, pemetaan berlanjut melalui seri Residentie Wester-Afdeeling van Borneo: Weg- en Rivierkaart. Peta berskala 1:50.000 dan 1:200.000 ini, tidak hanya menggambarkan Pontianak tetapi juga jaringan jalan dan sungai di seluruh wilayah Karesidenan Kalimantan Barat.

“Peta tersebut terlihat bahwa sungai Kapuas tetap menjadi koridor utama mobilitas masyarakat. Kemudian pembangunan jalan darat mulai menghubungkan pusat kota dengan kawasan di sekitarnya,” ujarnya.

Menjelang tahun 1895, lanjutnya, tata ruang Pontianak semakin matang. Berbagai kajian sejarah menggunakan peta edisi pembaruan tahun 1895, menunjukkan perkembangan kawasan pemerintahan, permukiman, dan perdagangan di kota ini.

“Pada periode tersebut, Pontianak telah berkembang sebagai kota pelabuhan yang memiliki pusat administrasi colonial. Kemudian mulai terbentuk kawasan perdagangan dan permukiman multietnis. Misalnya terdiri atas komunitas Melayu, Bugis, Banjar, Arab, dan Tionghoa,” ucap Syafaruddin Daeng Usman yang juga Ketua Harian Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kalimantan Barat periode 2025-2030.

Masih dalam analisis dia, kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Alun Kapuas, belum berfungsi sebagai taman kota. Berdasarkan peta-peta kolonial akhir abad ke-19, lokasi tersebut masih bagian dari tepian Sungai Kapuas yang dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas pelabuhan, tempat perahu bersandar, serta akses menuju kawasan pemerintahan dan perdagangan.

“Baru beberapa dekade setelah Indonesia merdeka, kawasan ini bertransformasi menjadi ruang publik yang kemudian dikenal sebagai Taman Alun Kapuas,” timpal Syafaruddin Daeng Usman.

Bagi peneliti sejarah, sambungnya, peta-peta kolonial tersebut memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi navigasi. Melalui setiap garis sungai, jalan, dan bangunan yang digambar, tersimpan kisah mengenai bagaimana Pontianak berkembang. Diawali sebuah bandar Sungai yang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan di Kalimantan Barat.

“Peta-peta itu mengingatkan bahwa identitas Pontianak dibentuk oleh sungai, oleh aktivitas pelayaran, dan oleh perjumpaan berbagai komunitas. Menjadikan kota ini sebagai salah satu simpul penting di pesisir barat Pulau Kalimantan,” ulas Syafaruddin Daeng Usman. (Mahmudi)

Admin

amriamrul@gmail.com

Recent News

Trending News

Editor's Picks

Indonesia Resmi Bangun AI Factory Terbesar se-Asia Tenggara, Target Kapasitas 1 GW

NEWSANTARA.CO, Jakarta – Pemerintah menyambut resmi peluncuran Zankore by Indosat, proyek kolaborasi empat raksasa teknologi global untuk membangun AI Factory terbesar di Asia Tenggara. Investasi ini menandai kepercayaan dunia terhadap ekonomi digital Indonesia. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengapresiasi komitmen Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan berkapasitas...

Festival Budaya Khatulistiwa 2026 Terselenggara Sukses, Pontianak Perkuat Peta Wisata Nusantara

Apresiasi untuk Edi Rusdi Kamtono sebagai Walikota Pontianak yang diserahkan oleh Emiliya Kalsum (Ketua panitia Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah Seribu). Minggu (26/7/2026). (photo. Zulkifli HZ) NEWSANTARA.CO, Pontianak — Setelah tiga hari memanjakan mata dan lidah para pengunjung, Festival Budaya Khatulistiwa (FBK) 2026 resmi berakhir, Minggu siang (26/7/2026). Namun ribuan pengunjung masih setia berada di...

BGN Tindak Tegas! 833 Dapur SPPG Bermasalah Resmi Ditutup

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) NEWSANTARA.CO, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menutup 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti melanggar standar operasional prosedur. Penutupan massal ini dilakukan serentak di berbagai wilayah Indonesia, Senin (27/7/2026). Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa ratusan dapur tersebut di-suspend karena gagal memenuhi standar keamanan...

Kualitas Pramuwisata Dukung Peningkatan Industri Pariwisata di Kalbar

Foto pelatihan Pramuwisata Kalbar di Universitas Tanjungpura, 17 Juli 2026 untuk mendukung Festival Budaya Khatulistiwa 2026 NEWSANTARA.CO, Pontianak – Penguatan kapasitas dan kompetensi pramuwisata jadi salah satu upaya strategis percepat pertumbuhan industri pariwisata di Kalimantan Barat. Hal tersebut semakin relevan seiring pelaksanaan Festival Budaya Khatulistiwa 2026, yang diharapkan menjadi etalase promosi destinasi wisata, budaya, sejarah,...

Pontianak dalam Peta Kolonial Awal Abad ke-19 hingga Tahun 1895

Foto: Budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman (kanan, berdiri) dan dosen Arsitek Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Emiliya Kalsum (kiri, duduk) di seminar budaya di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, Sabtu, 4 Juli 2026. (Foto: Zulkifli HZ) NEWSANTARA.CO, Pontianak — Sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip dan naskah kuno namun juga...

NE

News Elementor

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Quick Links

Popular Categories

Must Read

©2024- All Right Reserved. Designed and Developed by  Blaze Themes