PONTIANAK, Newsantara.co — Hamparan tanah pecah-pecah kini menggantikan luasnya perairan di Taman Nasional Danau Sentarum, Kapuas Hulu. Danau musiman yang biasanya menjelma “gudang air” raksasa saat musim hujan itu menyusut drastis hingga menyerupai padang gurun, menjadi potret paling mencolok dari kekeringan yang belakangan meluas ke hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat. Bau tanah kering dan udara panas menyelimuti sebagian besar daerah sepekan terakhir, memicu langkah tak biasa: warga dan aparat turun ke lapangan menggelar salat berjemaah, memohon langit segera menurunkan hujan.
Danau Sentarum, dari “Gudang Air” Jadi Padang Gersang

Perubahan paling dramatis terlihat di Danau Sentarum. Sebagian dasar danau bukan hanya menyusut, tetapi telah mengeras dan merekah seperti tanah gersang — cukup kuat menahan beban sepeda motor yang melintas di atasnya. Pemandangan yang menyerupai gurun pasir ini otomatis mengubah kebiasaan warga sekitar: perahu yang biasanya jadi satu-satunya alat angkut kini digantikan sepeda motor untuk sekadar menjangkau sisa-sisa genangan.
Namun di balik pemandangan yang terkesan unik ini, tersimpan persoalan serius. Krisis air bersih mulai membayangi permukiman di tepi danau, karena sumber-sumber air kecil ikut mengering bersamaan dengan menyusutnya danau.
Fenomena Danau Sentarum bukan kasus terisolasi. Julukan sungai terpanjang di Indonesia rupanya tak membuat Sungai Kapuas kebal dari kemarau ekstrem tahun ini. Di kawasan hulu, permukaan air menciut sedemikian rupa hingga dasarnya tersingkap. Bangkai-bangkai ikan bergelimpangan di lumpur yang mengeras — pemandangan yang membuat nelayan setempat gigit jari karena tangkapan ikut anjlok. Rute sungai yang biasa jadi jalur utama warga menuju desa-desa terpencil pun praktis lumpuh.
Kekeringan juga merambat hingga ke muara. Di Pontianak, debit air yang melemah membuka celah bagi air laut untuk menyusup masuk ke badan sungai. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengonfirmasi gejala intrusi air asin tersebut dan meminta warga mulai berhemat memakai air bersih, mengingat Kapuas selama ini menjadi andalan sumber air baku kota.
Ketika Ikhtiar Teknis Tak Cukup, Doa Pun Dipanjatkan
Menghadapi kondisi yang belum menunjukkan tanda membaik, sejumlah elemen masyarakat di Kalbar memilih menempuh jalur spiritual. Pemerintah Kota Pontianak mengambil inisiatif dengan mengajak warga menggelar Salat Istisqa pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, di halaman Masjid Raya Mujahidin. Ajakan ini disambut antusias — jemaah memadati pelataran masjid untuk memanjatkan doa bersama, berharap hujan segera turun dan mengakhiri kabut asap serta ancaman kebakaran yang mengintai.
Semangat serupa juga terlihat di Bengkayang. Jajaran Polres setempat menggelar salat istisqa lintas satuan, sementara personel yang beragama Kristen memilih menggelar doa bersama di aula dengan niat yang sama: memohon hujan. Data internal kepolisian mencatat titik panas di wilayah hukum mereka mencapai ribuan kejadian dalam enam bulan terakhir, dengan lonjakan signifikan justru terjadi sepanjang Agustus — bulan yang sama dengan digelarnya doa bersama tersebut.
Dari dasar Danau Sentarum yang merekah hingga hulu dan muara Kapuas yang ikut terdampak, kekeringan tahun ini menunjukkan pola yang kian meluas di Kalimantan Barat. Antara ikhtiar teknis di lapangan dan doa yang dipanjatkan, masyarakat Kalbar kini menggantungkan harapan pada satu hal yang sama: turunnya hujan. Selama langit belum juga berbaik hati, kekhawatiran akan meluasnya kebakaran lahan dan memburuknya krisis air bersih tetap menjadi bayang-bayang yang harus terus diwaspadai bersama.


















