JAKARTA, Newsantara.co – Kementerian Investasi/BKPM mempercepat revisi tiga aturan perizinan berusaha berbasis risiko untuk mendongkrak realisasi investasi dan capai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menegaskan, reformasi birokrasi ini kunci utama menarik lebih banyak investor.
“Target 8% ambisius tapi realistis jika perizinan diperbaiki. Dalam 5 tahun ke depan, kita butuh realisasi investasi Rp13.000 triliun, naik signifikan dari capaian sebelumnya,” tegas Todotua dalam Konsultasi Publik Rancangan Permen Investasi, Kamis (3/7/2025).
Percepat Perizinan, Hindari Potensi Rugi Triliunan
Todotua mengungkap, pada 2024 Indonesia kehilangan potensi investasi Rp2.000 triliun akibat masalah perizinan dan iklim investasi yang belum kondusif. Untuk itu, Kementerian di bawah Menteri Rosan Roeslani fokus menyederhanakan 1.700 jenis perizinan yang melibatkan 17 K/L.
“Triwulan I-2025 realisasi investasi sudah capai Rp465 triliun. Triwulan II juga positif, tapi kita waspadai tantangan di semester kedua,” ujarnya. Tahun ini, target investasi dinaikkan menjadi Rp1.900 triliun dari Rp1.700 triliun di 2024.
Integrasi OSS: Keuangan Masuk Sistem Digital
Sektor keuangan menjadi perhatian khusus karena belum terintegrasi dengan sistem Online Single Submission (OSS). BKPM dan OJK telah sepakat membawa perbankan dan asuransi masuk OSS dalam 1-2 minggu ke depan.
“Data investasi sektor keuangan selama ini tidak terekam. Dengan OSS, proses lebih transparan dan kepastian hukum meningkat,” jelas Todotua.
Konsultasi Publik untuk Penyempurnaan
Revisi tiga aturan utama, termasuk Peraturan BKPM No. 3-5 Tahun 2021, diharapkan mempermudah perizinan. Pemerintah juga membuka masukan dari pelaku usaha untuk memastikan kebijakan efektif.
“Reformasi birokrasi adalah perintah Presiden. Kami ingin ciptakan kepastian bagi investor,” tandasnya.
Optimisme Menuju Ekonomi Kuat
Dengan percepatan perizinan dan integrasi OSS, pemerintah yakin target pertumbuhan 8% bisa dicapai. Langkah ini sekaligus antisipasi persaingan global menarik investasi.