PARIS, Newsantara.co – Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi mengumumkan rencananya untuk mengakui kedaulatan Palestina pada Sidang Majelis Umum PBB September 2025. Langkah ini memicu reaksi beragam, mulai dari dukungan sejumlah negara Eropa hingga penolakan keras dari Amerika Serikat.
“Prancis akan mengakui Negara Palestina sebagai bagian dari komitmen kami menciptakan perdamaian adil di Timur Tengah,” tegas Macron dalam pernyataannya di platform X, Jumat (25/7/2025).
Macron menegaskan, prioritas saat ini adalah gencatan senjata di Gaza, pembebasan sandera, dan percepatan bantuan kemanusiaan.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio langsung mengecam rencana tersebut. Melalui X, Rubio menyebut keputusan Macron “ceroboh” dan hanya menguntungkan Hamas. “Ini tamparan bagi korban serangan 7 Oktober,” tulisnya.
Sebelumnya, AS telah memveto keanggotaan penuh Palestina di PBB pada 2024. Sementara itu, 147 negara lain, termasuk Irlandia, Norwegia, dan Spanyol, telah mengakui Palestina. Pemimpin Eropa menyambut positif langkah Macron, menyebutnya sebagai terobosan diplomasi.
Macron mengaku telah mengirim surat ke Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, menegaskan komitmen Prancis. “Perdamaian harus dibangun bersama, dengan pengakuan terhadap Israel dan demiliterisasi Hamas,” ujarnya.
Laporan The Telegraph menyebutkan, Prancis dan Inggris sempat berselisih soal waktu pengakuan ini. Macron disebut mendorong PM Inggris Keir Starmer untuk segera mengambil langkah serupa, namun London masih ragu.
Apabila janji Macron ini benar dilakukan, maka Prancis akan jadi penentu. Situasi ini berpotensi memicu dinamika baru dalam peta politik Timur Tengah, sekaligus memperlebar jarak antara Eropa dan AS dalam menyikapi konflik Israel-Palestina.