Pengakuan Tiga Negara Ini akan Tekan Israel untuk Hentikan Perang di Gaza
OTTAWA, Newsantara.co – Kanada dan Inggris bergabung dengan Prancis dalam rencana mengakui kedaulatan Palestina. Pengakuan dari tiga negara kuat ini akan meningkatkan tekanan internasional pada Israel di tengah krisis kemanusiaan di Gaza. Langkah ini diumumkan jelang Sidang Majelis Umum PBB September mendatang.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menegaskan bahwa pengakuan tersebut didasari situasi darurat di Gaza, termasuk kelaparan parah dan blokade bantuan. “Prospek perdamaian bagi Palestina semakin memudar akibat kebijakan Israel,” tegasnya.
Sebelumnya, Inggris menyatakan akan mendukung Palestina jika konflik Gaza belum berakhir sebelum Sidang PBB. Prancis juga telah mengonfirmasi sikap serupa pekan lalu.
Reaksi Israel & AS
Pemerintah Israel mengecam keputusan Kanada sebagai “hadiah bagi Hamas” yang dinilai merusak upaya gencatan senjata. Gedung Putih melalui juru bicara anonim menyebut pengakuan Palestina “keliru dan hanya menguntungkan militan.”
Krisis Gaza Memicu Kemarahan Global
Laporan PBB menyebutkan, lebih dari 60.000 warga Gaza tewas sejak perang Oktober 2023. Pemantau kelaparan memperingatkan risiko “famine terburuk” di wilayah itu. Serangan Israel terhadap truk bantuan di Gaza Utara hari ini menewaskan 50 orang, menurut media setempat.
Dukungan untuk Palestina
Sejak 2012, Palestina telah diakui sebagai “negara pengamat” oleh 75% anggota PBB. Analis politik AS, Jonathan Panikoff, menyebut langkah Kanada & sekutu sebagai “tekanan simbolis untuk memaksa Israel kembali ke solusi dua negara.”
Respons Warga Gaza
“Dunia akhirnya mendengar jeritan kami,” ujar Saed al-Akhras, warga Gaza. Namun, keluarga sandera Israel menentang pengakuan Palestina sebelum tawanan dibebaskan.
Sementara Netanyahu bersikukuh bahwa keamanan Israel harus jadi prioritas, menteri sayap kanannya malah mengancam aneksasi Gaza.
Bantuan PBB Tidak Mencukupi
Meski pasokan makanan meningkat, PBB menyatakan bantuan ke Gaza masih jauh dari kebutuhan. Perang terus berlanjut tanpa tanda-tanda perdamaian.