Mendikdasmen Ingatkan Bahaya Anak Bermain Gim Roblox, Arahkan Kekerasan Verbal dan Kecanduan
JAKARTA, Newsantara.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara tegas melarang siswa sekolah dasar (SD) bermain game Roblox. Larangan ini dikeluarkan setelah banyaknya laporan tentang konten kekerasan dan kata-kata tidak pantas dalam platform tersebut.
“Roblox mengandung adegan berkelahi, membanting karakter, dan bahasa kasar yang tidak pantas ditiru anak-anak. Mereka belum bisa membedakan mana dunia virtual dan nyata,” tegas Mu’ti saat kunjungan kerja di SDN Cideng 2, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025).
Ia mengingatkan, paparan konten kekerasan berpotensi memengaruhi perilaku siswa. Selain itu, kecanduan gaming juga berisiko menyebabkan malas gerak (mager), penurunan konsentrasi belajar, serta gangguan emosional.
Orang Tua Diminta Lebih Aktif Awasi Anak
Mu’ti meminta orang tua meningkatkan pengawasan saat anak menggunakan gadget. “Dampingi mereka, pastikan yang diakses konten edukatif, bukan permainan berbahaya,” ujarnya.
Larangan ini diperkuat dengan Program Tunas, hasil kolaborasi Kemendikdasmen dan Kemenkomdigi, yang bertujuan melindungi anak dari konten digital berisiko. PP No. 17/2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital juga telah diterbitkan sebagai payung hukum.
Dukungan dari KPPPA dan Kritik Pengamat
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mendukung penuh kebijakan ini. “Banyak anak bermain Roblox tanpa pengawasan, bahkan terpapar konten terselubung yang tidak sesuai usia,” katanya.
Sementara itu, pengamat media digital anak, Nur Azizah, menyarankan pendekatan edukasi ketimbang pelarangan total. “Perlu sistem filter lebih ketat dan literasi digital sejak dini,” ujar peneliti Universitas Indonesia tersebut.
Roblox, platform game berbasis komunitas, memang menyediakan fitur moderasi. Namun, efektivitasnya sering dipertanyakan karena masih banyak konten kekerasan dan dewasa yang lolos.
Larangan ini menjadi alarm bagi orang tua dan sekolah agar lebih cermat memilih konten digital untuk anak.