TEL AVIV, Newsantara.co – Pemerintahan Zionis Israel semakin diluar kendali, setelah mengeluarkan ultimatum keras baru-baru ini kepada Hamas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersumpah untuk menghancurkan Kota Gaza jika kelompok militan itu menolak membebaskan semua sandera dan menyerahkan senjata.
“Pintu neraka akan segera terbuka bagi para pembunuh dan pemerkosa Hamas di Gaza. Nasib Gaza akan seperti Rafah dan Beit Hanoun jika mereka tidak setuju dengan syarat kami,” tulis Katz dalam sebuah pernyataan di media sosial pada Jumat (22/8/2025).
Ancaman ini mempertegas komitmen Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyatakan bahwa operasi militer untuk merebut Kota Gaza akan berjalan paralel dengan proses negosiasi pembebasan sandera.
“Kedua hal ini, mengalahkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera kita, berjalan beriringan,” tegas Netanyahu dalam pernyataan videonya.
Namun, eskalasi militer ini menuai peringatan keras dari PBB. Lembaga dunia itu menyatakan rencana Israel berpotensi menimbulkan “dampak kemanusiaan yang mengerikan” bagi warga sipil. Laporan terbaru tentang tingkat kelaparan di Gaza juga diperkirakan akan segera dirilis.
Menanggapi hal tersebut, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, justru hanya berfokus pada nasib sandera, bukan kepada rakyat Gaza yang kelaparan. “Yang benar-benar kelaparan adalah para sandera yang diculik dan disiksa oleh biadab Hamas,” tulisnya di platform X.
Data terbaru menyebutkan 49 sandera masih ditahan di Gaza sejak serangan Oktober 2023. Sementara itu, Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 62.000 warga Palestina, sebagian besar sipil, tewas dalam ofensif Israel—angka yang dianggap kredibel oleh PBB.
Dengan ultimatum terbaru ini, Israel menjadikan pembebasan sandera sebagai syarat mutlak untuk menghentikan serangan, meski harus berhadapan dengan kecaman internasional.