JAKARTA, Newsantara.co – Paket stimulus ekonomi 8+4+5 yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto dinilai belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi kelas menengah Indonesia. Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menyoroti penurunan drastis populasi kelompok ini sebagai alarm bagi perekonomian nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kamrussamad mengungkapkan fakta mencengangkan: jumlah kelas menengah Indonesia anjlok dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi hanya 47,85 juta jiwa pada 2024. Itu artinya, dalam lima tahun terakhir, sebanyak 9,5 juta orang keluar dari kelompok middle class, atau terjadi penyusutan sebesar 17,13%.
“Program magang, bantuan pangan, dan subsidi non-upah dalam paket 8+4+5 belum menjawab kebutuhan kelas menengah sebagai penggerak utama roda ekonomi. Pemerintah harus segera menambahkan stimulus khusus untuk mereka,” tegas Kamrussamad di Jakarta, Selasa.
Kelas menengah, menurutnya, merupakan mesin konsumsi yang menjaga daya beli tetap stabil. Kelompok ini tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, tetapi juga menggerakkan sektor sekunder seperti pendidikan, transportasi, dan rekreasi.
Solusi Konkret: Usul Gebrakan Ala Orde Baru
Sebagai solusi, Kamrussamad mengusulkan agar pemerintah Prabowo-Gibran mencontoh kebijakan di era Presiden Soeharto yang sukses melahirkan konglomerat nasional melalui program pembiayaan terarah.
Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar pemberian modal, tetapi harus menjadi pilot project yang dikomando langsung oleh pemerintah untuk menumbuhkan sektor-sektor strategis.
Target Keluar dari Middle Income Trap
Dengan strategi yang jelas, Kamrussamad yakin Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
“Lahirnya pengusaha-pengusaha baru dari kelas menengah akan mendongkrak pendapatan per kapita secara signifikan. Ini adalah kunci menuju ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan dan mandiri,” pungkasnya.