Headlines

Mengenal Kekayaan Kuliner Dayak Tamambaloh dalam Tema ‘Rasa Hulu’

PUTUSSIBAU, Newsantara.co – Dalam rangkaian acara Hi-Fest 2025, perhatian pengunjung tertuju pada sesi demo makanan tradisional bertajuk ‘Rasa Hulu’ yang dibawakan oleh, Maria Itotanti pemilik Rumah Makan Padmi. Acara ini sukses memanjakan pengunjung dengan kekayaan dan keunikan kuliner Tamambaloh.

Maria Itotanti, yang dikenal sebagai salah satu pegiat kuliner tradisional, tidak hanya mendemonstrasikan cara memasak, tetapi juga berbagi cerita mendalam dari setiap hidangan yang disajikan. Tujuannya jelas: menjaga warisan rasa leluhur agar tetap lestari dan dikenal luas, terutama oleh generasi muda.

Dalam sesi demo, Itot memperkenalkan beberapa kuliner khas Dayak Tamambaloh, Menu-menu tersebut antara lain: Suman / Pansu Ayam Kampung: Ini adalah hidangan utama yang dimasak di dalam bambu (pansuh), memberikan aroma khas bambu yang menyerap sempurna ke dalam daging ayam kampung yang lembut dan kaya rempah., Pekasam Sawi: Sebuah menu fermentasi yang menunjukkan kearifan lokal dalam pengawetan makanan. Sawi yang diolah menjadi pekasam ini memiliki rasa asam segar yang cocok sebagai pendamping lauk.

Sirup Asam Patikala: Minuman berbahan dasar buah patikala (kecombrang) yang menyegarkan. Sirup ini menawarkan sensasi rasa asam yang unik dan dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan. Barujak: Makanan penutup atau camilan yang terbuat dari buah-buahan lokal, mirip seperti rujak namun dengan bumbu khas Dayak yang membedakannya.

Maria Itotanti menjelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam kuliner Tamambaloh sebagian besar adalah hasil dari alam sekitar, mencerminkan kedekatan masyarakat Dayak dengan hutan dan sumber daya alam.

Kuliner Dayak bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang cara kita menghargai alam. Dengan memasak secara tradisional, kita menjaga autentisitas dan nutrisi yang terkandung di dalamnya, saya pikir salah satu masakan yang disebut Suman /Pansu memenuhi syarat sebagai hidangan wajib daerah Kabupaten Kapuas Hulu, selain cita rasanya masakan ini secara pengetahuan dikuasai oleh semua Masyarakat adat,” ujar Itotanti di hadapan peserta yang antusias.

Para pengunjung Hi-Fest 2025 menyambut sesi ‘Rasa Hulu’ dengan antusias. Banyak dari mereka yang baru pertama kali mencicipi kuliner Dayak Tamambaloh dan terkesan dengan kekayaan rasa dan bumbu rempah yang digunakan.

Saya sangat terkesan dengan Suman Ayam Kampung-nya. Aromanya luar biasa, dan dagingnya sangat empuk. Ini pengalaman rasa yang benar-benar baru bagi saya,” kata Tata, salah satu pengunjung dari Jakarta.

Sebagai seorang vegan, hidangan yang tersaji ini sangat lanyak dihidangkan pada komunitas vegetarian internasional, rasa dan kecukupan nabati pada hidangan Tamamambaloh sudah saatnya naik kelas,” ujar Pandu pengunjung asal Bogor.

Keberhasilan sesi demo ini semakin memperkuat posisi Hi-Fest 2025 sebagai wadah penting untuk promosi dan pelestarian warisan budaya, khususnya kuliner tradisional Nusantara yang tak ternilai harganya. Diharapkan, langkah yang dilakukan Maria Itotanti dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk melestarikan dan mengembangkan potensi kuliner lokal di Indonesia. (Ismu Widjaya)