YERUSALEM, Newsantara.co – Para aktivis kemanusiaan internasional yang ditangkap Israel dari armada kapal bantuan Gaza, Sumud Flotilla mengalami kekerasan sistematis dan perlakuan buruk selama dalam tahanan. Pusat Hukum Adalah, Senin (6/10/2025), merilis kesaksian para aktivis yang mengonfirmasi tindakan kekerasan sejak penyergapan di perairan internasional.
Penasihat hukum Adalah, Lubna Tuma, dalam pernyataan videonya menyatakan pasukan Israel memaksa para aktivis berlutut dalam posisi menyiksa selama lebih dari satu jam. “Mereka harus menahan posisi itu, dengan dahi menyentuh lantai, tanpa boleh bergerak atau berbicara,” ujar Tuma.
Kondisi Penahanan Tidak Manusiawi
Tuma menambahkan, otoritas Israel menahan para aktivis dalam sel berukuran tiga meter yang diisi 15 orang. “Mereka diborgol di belakang punggung selama lebih dari lima jam tanpa akses ke makanan atau air minum. Tidak satu pun dari mereka yang mendapat perawatan medis,” jelasnya.
Ia juga melaporkan adanya perlakuan kasar dan penghinaan oleh tentara Israel. “Para tentara menertawakan, menghina, dan melakukan penyiksaan fisik. Perempuan mendapat perlakuan yang jauh lebih keras,” katanya.
Warga Arab dan Perempuan Berhijab Alami Diskriminasi Ekstrem
Lubna Tuma menekankan bahwa warga Arab mengalami perlakuan paling diskriminatif. “Kami memiliki kesaksian bahwa perempuan berhijab dilarang mengenakan jilbab dan dilarang melaksanakan ibadah di dalam penjara,” tuturnya.
Menurutnya, skala kekerasan yang terjadi kali ini lebih parah karena jumlah tahanan yang sangat besar, mencapai lebih dari 470 orang dari 50 negara. “Tujuannya jelas: menebar teror dan mencegah upaya bantuan kemanusiaan berikutnya ke Gaza,” tegas Tuma.
Latar Belakang
Personel angkatan laut Israel menyita kapal “Global Sumud Flotilla” pada Rabu lalu dan menahan seluruh aktivis di dalamnya. Armada kemanusiaan ini berupaya menembus blokade Israel yang telah berlangsung selama 18 tahun di Jalur Gaza.
Hingga Senin, sekitar 170 aktivis telah dideportasi, dengan 170 lainnya dijadwalkan menyusul. Blokade dan operasi militer di Gaza telah memicu krisis kemanusiaan parah, termasuk wabah penyakit dan kelaparan yang meluas.