Warga Gaza Sebut Pusat Distribusi AS/Israel sebagai “Jebakan Maut”
GAZA, Newsantara.co – Pemerintah Gaza melaporkan 549 warga Palestina tewas dan 4.066 terluka saat mencoba mendapatkan bantuan kemanusiaan dari pusat distribusi yang didukung AS dan Israel. Sejak beroperasi empat minggu lalu, lokasi tersebut justru menjadi “jebakan maut” bagi warga yang kelaparan.
“Ini kejahatan perang sistematis oleh Israel,” tegas Kantor Media Pemerintah Gaza. “Mereka memancing warga sipil dengan makanan, lalu membunuhnya.” Sebanyak 39 orang masih dinyatakan hilang dalam insiden ini.
UNRWA: Krisis Gaza Terabaikan Akibat Konflik Iran-Israel
Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA, menyatakan krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah. “Perhatian dunia beralih, tapi serangan dan kelaparan terus berlangsung,” ujarnya.
Ia mengecam blokade bantuan Israel yang memperburuk situasi. “Warga Gaza terjebak: biarkan keluarga kelaparan atau risiko tewas saat mencari bantuan,” katanya. Mekanisme bantuan baru Israel disebut “memalukan dan mematikan”, karena justru memicu lebih banyak korban.
Israel Gunakan Makanan sebagai Senjata?
Lazzarini mendesak dunia internasional kembali fokus pada Gaza. “Kami punya stok bantuan di perbatasan, tapi Israel halangi distribusi,” tegasnya.
UNRWA, yang telah kehilangan 320 staf sejak Oktober 2023, terus beroperasi meski dihantam serangan. “Israel ciptakan sistem yang mengabaikan anak-anak, lansia, dan perempuan,” kritiknya.
Gaza di Ambang Kehancuran Total
Sejak 2023, 56.000 warga Palestina tewas, mayoritas wanita dan anak-anak. Israel kini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional.
“1,9 juta orang masih mengungsi, tanpa makanan dan obat-obatan,” lapor PBB. Pengadilan Kriminal Internasional bahkan telah mengeluarkan surat penangkapan untuk PM Israel Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang.
Apa Solusinya?
Lazzarini mendesak:
- Gencatan senjata permanen di Gaza.
- Bebaskan sandera dan cabut blokade.
- Izinkan bantuan PBB masuk tanpa hambatan.
“Gaza butuh aksi nyata, bukan janji,” tegasnya.