Cari Pasar Alternatif Selain AS, Indonesia Genjot Ekspor Baru Eropa hingga Afrika

JAKARTA, Newsantara.co – Pemerintah Indonesia memperluas pasar ekspor ke Uni Eropa, Selandia Baru, dan Afrika untuk mengimbangi dampak tarif impor AS sebesar 19% pada produk nasional. Langkah ini diambil setelah negosiasi berhasil menurunkan tarif dari sebelumnya 32%.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menegaskan pelaku usaha harus meningkatkan kinerja bisnis, sementara pemerintah membuka akses pasar baru.

Kami tak hanya fokus pada negosiasi dengan AS, tapi juga ekspansi ke pasar non-tradisional seperti Afrika dan Uni Eropa,” ujarnya di Jakarta, Selasa (22/7/2025).

Perjanjian IEU-CEPA dengan Uni Eropa menjadi peluang baru, sementara Selandia Baru dan Afrika diproyeksikan sebagai destinasi alternatif. “Misi dagang akan terus digencarkan agar produk Indonesia lebih kompetitif,” tambah Dyah.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan tarif 19% untuk Indonesia adalah yang terendah di kawasan. “Ini pencapaian strategis, apalagi Indonesia jadi negara pertama yang sukses negosiasi setelah kebijakan AS resmi berlaku,” jelasnya.

Negosiasi tarif dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sejak April 2025, dengan kunjungan langsung ke AS. Langkah ini diharapkan memperkuat industri padat karya, seperti garmen dan alas kaki.