JAKARTA, Newsantara.co – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Perekonomian, mengumumkan telah menyelesaikan studi kelayakan (feasibility study) untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berteknologi Small Modular Reactor (SMR). Studi ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa energi nuklir merupakan pilar kunci dalam transisi energi Indonesia menuju energi bersih.
“Feasibility study untuk pengembangan SMR telah resmi kami selesaikan. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan perizinan konstruksi dan seluruh legalitas yang diperlukan,” tegas Airlangga dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Teknologi SMR yang akan diterapkan menawarkan fleksibilitas dan kecepatan pembangunan yang unggul. Reaktor ini dapat mulai beroperasi menghasilkan listrik dalam waktu sekitar 4 tahun dengan kapasitas awal hingga 700 MW.
“Skalanya modular, seperti cartridge. Bisa dimulai dari 70 MW, kemudian ditingkatkan bertahap menjadi 140 MW, 220 MW, dan seterusnya sesuai kebutuhan,” jelas Airlangga.
Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif telah menyusun peta jalan pengembangan PLTN hingga 2034 dengan target kapasitas 500 MW. Rencana tersebut akan diwujudkan dengan membangun dua lokasi PLTN:
- Pulau Sumatera: Kapasitas 250 MW
- Pulau Kalimantan: Kapasitas 250 MW
Pemilihan Kalimantan didukung oleh potensi bahan baku yang signifikan, dimana Kabupaten Melawi di Kalimantan Barat menyimpan cadangan uranium mencapai 24.112 ton.
Proyek strategis nasional ini akan digarap oleh PT PLN Indonesia Power (anak usaha PLN) yang berkolaborasi dengan konsorsium internasional, yakni NuScale Power, LLC dari Amerika Serikat dan JGC Corporation dari Jepang.