MANILA, Newsantara.co – Ribuan warga Filipina, didominasi mahasiswa dan aktivis, membanjiri sejumlah titik utama di Manila seperti People Power Monument dan Rizal Park pada Minggu (21/9/2025). Mereka mendesak pertanggungjawaban pemerintah atas dugaan korupsi masif dalam sejumlah proyek, termasuk pengendalian banjir.
Badan kepolisian setempat melaporkan sekitar 49.000 orang memadati Taman Luneta, sementara penyelenggara aksi menyatakan jumlah peserta mencapai 80.000 orang. Unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai ini akhirnya memanas.
Para pengunjuk rasa bentrok dengan aparat keamanan di dekat Jalan Mendiola. Polisi anti-huru hara membalas aksi pelemparan batu dan pembakaran sebuah truk trailer oleh sebagian demonstran. Akibat insiden tersebut, Kepolisian Nasional Filipina mengonfirmasi 20 orang ditahan dan setidaknya 39 petugas mereka terluka.
Meski terjadi kekerasan, pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla menegaskan komitmennya untuk melindungi hak berkumpul warga.
“Kami akan melindungi warga yang berkumpul secara damai, tetapi kami tidak akan menoleransi ketidakstabilan dan kekerasan,” tegas Remulla.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. juga dikabarkan memerintahkan aparat untuk menerapkan “toleransi maksimal” guna mencegah korban jiwa.
Sementara itu, Wali Kota Manila menerapkan jam malam ketat bagi remaja di bawah 17 tahun mulai pukul 22.00 hingga 04.00 waktu setempat sebagai langkah antisipasi lanjutan.