PONTIANAK, Newsantara.co – Para pegiat sastra, lingkungan, dan budaya bersatu dalam diskusi “Sastra, Lingkungan, dan Perkara Tentangnya” di Nowadays Coffee, Pontianak, Kamis (18/12/2025). Mereka menegaskan peran vital sastra sebagai media yang mengubah data krisis ekologis menjadi cerita manusiawi, sehingga membangkitkan tanggung jawab moral publik.
Abroorza A. Yusra, penulis novel “Danum” dan “Diyawa si Kaki Merah” yang menginisiasi acara, menyatakan sastra mampu menerjemahkan krisis lingkungan ke dalam bahasa personal. “Sastra mengubah persoalan alam dari sekadar data ilmiah menjadi narasi tentang luka dan kehilangan yang langsung menyentuh hati,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).
M. Hermayani Putera, pegiat lingkungan dengan pengalaman di WWF Indonesia dan USAID, menambahkan bahwa kerusakan lingkungan sering menghapus cerita. “Sastra hadir untuk mengisi kekosongan itu: merekam, menggugat, dan menyentil kita. Kata-kata masih punya daya untuk melawan lupa dan berpihak pada alam,” tegas Hermayani.
Penulis dan pegiat lingkungan bahas kekuatan kata-kata membangun empati dan aksi nyata untuk alam, lengkapi dengan bazar buku donasi untuk bencana Sumatera.
Diskusi yang dimoderatori Hera Yulita ini juga menghadirkan budayawan Hatta Budi Kurniawan. Penyair Ilham Setia dan pegiat literasi Iin Parlina turut membacakan karya bertema lingkungan, memperkaya dimensi dialog.
Sebagai aksi nyata, panitia menyelenggarakan bazar buku donasi untuk korban bencana di Sumatera melalui Yayasan PRCF Indonesia. “Melalui bazar ini, penulis bisa ‘berdonasi’ dengan menggratiskan buku mereka, sementara pembeli mendapat buku sekaligus berdonasi. Semua pihak mendapat kebaikan,” jelas Abroorza.
Acara ini didukung oleh Lembaga Siberdaya, Yayasan PRCF Indonesia, Komunitas Setara, Kopermekha Bekate, Forum Penulis Barat Borneo, dan Nowadays Coffee, menunjukkan kolaborasi kuat antar komunitas untuk menjawab masalah lingkungan melalui jalur kultural.