NEW YORK, Newsantara.co – Investigasi terbaru mengungkap Israel membayar Google sebesar USD45 juta (Rp688 miliar) untuk kampanye iklan enam bulan. Tujuannya, membantah laporan PBB terkait kelaparan ekstrem yang melanda Gaza.
Laporan Drop Site News menyebut kontrak itu diteken pada akhir Juni 2025, di tengah meningkatnya kecaman dunia atas blokade total Israel terhadap Jalur Gaza sejak 2 Maret 2025. Blokade tersebut menghentikan pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, hingga kebutuhan pokok.
Sejak kebijakan itu diterapkan, setidaknya 367 warga Gaza tewas karena kelaparan, termasuk 131 anak-anak. Namun, alih-alih mengatasi krisis kemanusiaan, Israel memilih meluncurkan kampanye digital melalui Google dan platform lain.
Salah satu iklan yang tayang di YouTube menampilkan warga Palestina sedang makan, diakhiri dengan kalimat: “Ada makanan di Gaza. Klaim lain adalah kebohongan.” Iklan ini dipromosikan luas saat protes global meningkat dan PBB resmi menyatakan Gaza menghadapi bencana kelaparan.
Selain Google, Israel juga menggelontorkan USD3 juta untuk iklan di media sosial X serta membawa influencer Amerika ke Gaza. Langkah ini dilakukan sementara jurnalis internasional dilarang masuk dan jurnalis Palestina menjadi sasaran serangan.
Beberapa menteri Israel bahkan terang-terangan mendukung strategi kelaparan. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyebut, “Biarkan mereka mati kelaparan atau menyerah.” Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Warisan Amichay Eliyahu yang menilai warga Palestina “harus dibuat kelaparan” kecuali meninggalkan Gaza.
Kontroversi semakin besar setelah Sergey Brin, pendiri Google, menuduh PBB “antisemit” usai laporan Pelapor Khusus Francesca Albanese yang menyinggung peran Google dalam mendukung operasi militer Israel melalui layanan cloud.