Heritage Tanah Seribu Pal di Festival Budaya Khatulistiwa 2026

NEWSANTARA.CO, Pontianak — Warisan sejarah lama kota Pontianak, berusaha dihidupkan kembali oleh para akademisi dan pegiat sejarah. Dosen program studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Tanjungpura (Untan), Ar. Emiliya Kalsum ST MT IAI IPM memaparkan perjalanan sejarah Pontianak di Festival Budaya Khatulistiwa tahun 2026.

Dalam momen seminar budaya di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, pada Sabtu, (4/5/2026) itu, ia menampilkan heritage (warisan) Duizend Vierkanten Paal (Seribu Pal Persegi).

“Duizend Vierkanten Paal memiliki nilai sejarah yang unik, dipelajari banyak kalangan karena tata kota kolonial tapi memiliki formasi yang dapat dipakai hingga sekarang. Tradisional dan modern yang bersatu-padu,” kata Emiliya Kalsum

Dosen FT Untan Pontianak yang juga seorang arsitek ini mengatakan pembuatan Duizend Vierkanten Paal menjadi dasar blue print (cetak biru) tata ruang modern Colonial Town (Kota Kolonial) Pontianak. Hasil dari perjanjian Acte van Investiture (Akta Pentahbisan) antara Sultan Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau persekutuan dagang Hindia Belanda pada 5 Juli 1779.

Duizend Vierkanten Paal secara harfiah artinya Seribu Pal Persegi. Berdasarkan hukum kolonial Belanda, 1 Paal sama dengan 1.506 meter. Akan tetapi dalam implementasi penyerahan lahan oleh Sultan Pontianak kepada VOC, menggunakan ukuran Patokan Meter dari Prancis yang umum digunakan ahli ukur di seluruh dunia hingga hari ini. Yaitu, jarak dari Kutub Utara ke Garis Khatulistiwa yang melewati kota Paris, ibukota Prancis.

“Patokan Meter Prancis, Duizend Vierkanten Paal menghasilkan sebidang tanah berukuran 1.000×1.000 Meter persegi di sisi selatan sungai Kapuas. Formasi arsitek ini, secara permanen menghasilkan pembelahan struktur kota jadi dua zona. Sisi utara sungai Kapuas, zona tradisional yang menjadi pusat kekuasaan Bumi Putera. Sisi selatan sungai Kapuas, wilayah Tanah Seribu Pal yang dikuasai Belanda,” kata Emilya Kalsum.

Seminar kolaborasi sejarah dan budaya jelang Festival Budaya Khatulistiwa 2026 di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, Sabtu, 4 Juli 2026. (Foto: Zulkifli HZ)

Emilya yang juga Ketua Panitia Festival Budaya Khatulistiwa 2026, ini menerangkan area sisi utara kota, menjadi pusat kekuasaan pribumi yang berporos pada Istana Kadariah, pusat administrasi pemerintahan, kediaman Sultan, pejabat pribumi, dan pasar tradisional. Kemudian ada Masjid Jami Sultan Abdurrahman yang menjadi pusat keagamaan warga pribumi.

“Sedangkan sisi selatan, biasa disebut kota kolinial Duizend Vierkanten Paal atau Tanah Seribu Pal. Wilayah ini menjadi pusat kedudukan militer dan administrasi Resident het Hoofdplaats Westerafdeeling van Borneo (Keresidenan Borneo Barat, Red),” ungkap Emiliya Kalsum.

Dijelaskannya Tanah Seribu Pal ini, Belanda mulai memperkenalkan modernisasi tata ruang wajah Pontianak modern di masanya. Perkampungan air menjadi kota daratan dan perdagangan penghubung antara pelabuhan-pelabuhan di dalam dan keluar dari Kalimantan Barat.

“Pemerintah kolonial Belanda, melaksanakan kebijakan zoning area antara tahun 1819 sampai 1830. Alasannya terjadi urbanisasi besar-besaran dari pesisir dan pedalaman Kalimantan Barat ke Pontianak. Belanda menerapkan sistem klaster atau mengelompokkan hunian warga berdasarkan fungsi dan pekerjaan. Klaster fungsi lahan itu, menghasilkan kompleks kantor pemerintahan, perumahan pejabat yang dilengkapi lapangan tenis, pusat militer dengan benteng Fort Du Bus van Pontianak, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, hingga penjara,” papar Emilya Kalsum.

Setelah selesai program klaster fungsi lahan, lanjutnya, Belanda melanjutkan program sistem kanal urban pada tahun 1930-1941. Tujuannya untuk mengeringkan lahan rawa gambut dan mengantisipasi banjir pasang. Belanda membangun jaringan parit buatan untuk terusan jalur air (kanaal). Sistem drainase ini meniru tata kelola air di Amsterdam Belanda dan menjadi alasan Pontianak mendapat julukan “Kota Seribu Parit”.

“Ada banyak kanal yang dibuat namun paling besar ada tiga. Yaitu Secretaris Weg, pemukiman pejabat Eropa di kawasan administratif khusus kolonial Belanda. Kemudian, Soengai Djawi Weg, saluran air besar di sebelah barat yang ditata menjadi pembatas dan jalur logistik utama. Kanaal Koeala Doea, mengatur debit air pasang surut dari hulu sungai Kapuas sebelum masuk ke pusat kota,” kupas Emiliya Kalsum.

Ia menjelaskan heritage Duizend Vierkanten Paal ini akan ditampilkan ke Festival Budaya Khatulistiwa tahun 2026 yang akan dipusatkan di Taman Alun-alun Kapuas Pontianak pada 24 sampai 26 Juli 2026.

“Kita akan menapak tilas dengan jalan kaki ramai dari Alun-alun Kapuas ke tempat-tempat bersejarah dan kembali lagi ke tempat semula. Berlanjut kita akan melihat berbagai seni budaya kota Pontianak, mulai seni bertutur, Mendu (sandiwara tradisional, Red), hingga kuliner tradisional,” tutup Amiliya Kalsum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *