NE

News Elementor

NE

News Elementor

What's Hot

Temuan Emas dan Duit Eks Jampidsus: Desakan Kuat Pembersihan di Kejagung

Table of Content

NEWSANTARA.CO Jakarta – Kasus mega korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah (FA) masih menyisakan polemik. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri bersama swasta Don Ritto (DR), status penahanan dan komitmen lembaga untuk membongkar skandal penyimpanan emas batangan dan uang di berbagai tempat rahasia ini menjadi sorotan tajam publik dan pengamat hukum.

Penahanan Belum Dilakukan, Publik Khawatir ‘Tebang Pilih’

Hingga saat ini, FA belum ditahan meskipun barang bukti fantastis berupa emas 74 kg dan uang tunai miliaran rupiah telah disita dari rumahnya di Sentul, Bogor. Kejaksaan Agung (Kejagung) beralasan masih menunggu kelengkapan administrasi dan berkas perkara dari Polri. Namun, Komisi III DPR dan Koalisi Masyarakat Sipil mendesak penahanan segera dilakukan agar tidak menimbulkan kesan tebang pilih atau perlakuan istimewa terhadap tersangka yang merupakan mantan pejabat elite internal Kejagung.

Sementara itu, isu yang menyebut FA sempat beribadah umrah usai menjadi tersangka telah dibantah Kejagung. Pencekalan telah dilakukan dan yang bersangkutan masih berada di Indonesia dalam pantauan penyidik. Maka penahanan terhadap mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan proses penyidikan berjalan independen dan objektif.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyebut penahanan merupakan prosedur yang lazim dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan guna mencegah potensi hilangnya barang bukti sekaligus menghindari berbagai hambatan dalam proses pembuktian.

“Kalau belum ditahan tentu menjadi pertanyaan, karena dalam perkara tipikor penahanan memang sangat urgen untuk mempermudah pembuktian,” tegas Habiburokhman.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif LSM Democratic Judicial Reform (De Jure), Bhatara Ibnu Reza, menilai penahanan juga berfungsi menjaga independensi penyidikan. Ia berpandangan, status Febrie sebagai mantan Jampidsus berpotensi memengaruhi kondisi psikologis para penyidik yang sebelumnya berada di bawah koordinasinya.

“Penahanan penting untuk menjamin objektivitas proses hukum dan menghindari potensi konflik kepentingan,” ujar Bhatara.

Upaya Pembersihan: Jaksa Agung Usulkan Nama Baru dan Bentuk Tim Khusus

Menanggapi kasus ini, Jaksa Agung ST Burhanuddin telah mengusulkan Kepala Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan RI, Kuntadi, sebagai calon Jampidsus definitif pengganti Febrie. Kuntadi dikenal sebagai jaksa karier yang pernah memimpin penyidikan kasus korupsi besar seperti CPO (Rp20 triliun), BTS 4G, dan timah Rp303 triliun. Usulan ini kini sedang dalam proses penilaian oleh Tim Penilai Akhir (TPA) di Istana.

Untuk meminimalisir konflik kepentingan dalam penanganan perkara FA, Kejagung mengaku akan membentuk tim khusus dan berencana melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mekanisme supervisi.

Namun, langkah ini dikritik oleh pengamat dan aktivis antikorupsi seperti dari ICW dan UGM yang menilai penanganan kasus oleh institusi tempat tersangka bernaung berisiko tinggi terhadap objektivitas. Mereka mendesak agar KPK mengambil alih kasus ini untuk menghindari konflik kepentingan, mengingat FA adalah mantan atasan langsung para penyidik.

Tekanan untuk Bongkar Jaringan dan Rantai Komando

Desakan untuk membersihkan aparat penegak hukum tidak berhenti pada penahanan. Publik dan pegiat antikorupsi seperti Transparency International Indonesia serta pakar hukum dari Universitas Trisakti menuntut Kejagung agar tidak hanya menjadikan Febrie sebagai “kambing hitam”.

Mereka meminta penyidikan radikal untuk membongkar seluruh jaringan oligarki, korporasi hitam, serta aktor intelektual yang mungkin berada di balik FA . Jika tidak, kasus ini berpotensi menjadi drama politik yang gagal memberantas akar korupsi institusional.

Admin

amriamrul@gmail.com

Recent News

Trending News

Editor's Picks

Indonesia Resmi Bangun AI Factory Terbesar se-Asia Tenggara, Target Kapasitas 1 GW

NEWSANTARA.CO, Jakarta – Pemerintah menyambut resmi peluncuran Zankore by Indosat, proyek kolaborasi empat raksasa teknologi global untuk membangun AI Factory terbesar di Asia Tenggara. Investasi ini menandai kepercayaan dunia terhadap ekonomi digital Indonesia. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengapresiasi komitmen Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan berkapasitas...

Festival Budaya Khatulistiwa 2026 Terselenggara Sukses, Pontianak Perkuat Peta Wisata Nusantara

Apresiasi untuk Edi Rusdi Kamtono sebagai Walikota Pontianak yang diserahkan oleh Emiliya Kalsum (Ketua panitia Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah Seribu). Minggu (26/7/2026). (photo. Zulkifli HZ) NEWSANTARA.CO, Pontianak — Setelah tiga hari memanjakan mata dan lidah para pengunjung, Festival Budaya Khatulistiwa (FBK) 2026 resmi berakhir, Minggu siang (26/7/2026). Namun ribuan pengunjung masih setia berada di...

BGN Tindak Tegas! 833 Dapur SPPG Bermasalah Resmi Ditutup

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) NEWSANTARA.CO, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menutup 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti melanggar standar operasional prosedur. Penutupan massal ini dilakukan serentak di berbagai wilayah Indonesia, Senin (27/7/2026). Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa ratusan dapur tersebut di-suspend karena gagal memenuhi standar keamanan...

Kualitas Pramuwisata Dukung Peningkatan Industri Pariwisata di Kalbar

Foto pelatihan Pramuwisata Kalbar di Universitas Tanjungpura, 17 Juli 2026 untuk mendukung Festival Budaya Khatulistiwa 2026 NEWSANTARA.CO, Pontianak – Penguatan kapasitas dan kompetensi pramuwisata jadi salah satu upaya strategis percepat pertumbuhan industri pariwisata di Kalimantan Barat. Hal tersebut semakin relevan seiring pelaksanaan Festival Budaya Khatulistiwa 2026, yang diharapkan menjadi etalase promosi destinasi wisata, budaya, sejarah,...

Pontianak dalam Peta Kolonial Awal Abad ke-19 hingga Tahun 1895

Foto: Budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman (kanan, berdiri) dan dosen Arsitek Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Emiliya Kalsum (kiri, duduk) di seminar budaya di Gedung Theater II Kompleks Rektorat Untan di Pontianak, Sabtu, 4 Juli 2026. (Foto: Zulkifli HZ) NEWSANTARA.CO, Pontianak — Sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip dan naskah kuno namun juga...

NE

News Elementor

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Quick Links

Popular Categories

Must Read

©2024- All Right Reserved. Designed and Developed by  Blaze Themes